Halaman

Tampilkan postingan dengan label 2006. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2006. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Taat Dan Setia

"Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?" Lukas 16:12

Hari ini Rita merasa bete buanget.  Gimana ga’ bete.. udah sampe akhir bulan dia enggak pergi ke mal.  Sebagai anak gaul, biasanya seminggu sekali dia pasti nongkrong di mal.   Sayangnya, kali ini ‘kantong’ Rita udah tongpes (kosong).  Mau minta sama ortu juga rasanya takut en malu banget.  Maklum deh.. Rita tuh udah tau banget gimana sifat ortunya.. mereka pasti marah-marah apabila dia minta uang hanya untuk ongkos jalan-jalan.
Finally, Rita memperoleh ide brilian.  Dia segera membuka tas ibunya, dan bahagia banget melihat isi dompet ibunya yang berisi uang ratusan ribu.  Sebelum Rita ‘melancarkan aksinya’, tiba-tiba dia teringat dengan salah satu isi 10 perintah Allah yang bunyinya  “Jangan mencuri”.  Jadi Rita mengurungkan niatnya untuk mengambil uang ibunya.
Tidak lama kemudian, Rita mendapat ide brilian lagi; Ambil duit di bank.  “Toh gue punya buku tabungan sendiri.. Jadi ga’ ada salahnya donk kalo gue ngambil duit tabungan gue sendiri~!?”.   Rita segera mengambil buku tabungannya yang tersimpan di laci.  Ketika dia melihat saldonya, rupanya kemarin ibunya telah membawa buku bank Rita ke bank untuk menyetorkan uang ke dalam saldo buku banknya Rita. Kali ini Rita jadi bingung, mau ngambil uang di bank, tapi jumlahnya telah bertambah banyak karena hasil setoran uang ibunya.
Keputusan terakhir.. Rita bertanya (maksudnya berdoa, gitu!) pada Tuhan..  “Apakah gue boleh mengambil uang di bank, atau tidak..?”.  Seketika itu juga Tuhan menjawab.. “Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar”.  Rita segera membuka Alkitabnya dan mencari dimana ayat tersebut tercantum.  Setelah membolak-balik halaman, Rita akhirnya menemukannya kalimat tersebut di Lukas 16:10-12.  Pada saat itu juga Rita membatalkan rencananya untuk bersenang-senang di mal.
Namun, beberapa hari kemudian.. selama dua minggu penuh, Rita diajak saudara-saudaranya dan ibunya.. pergi ke semua pusat perbelanjaan yang ada di kotanya.  Dan seluruh kebutuhan pribadi Rita dibelikan oleh ibunya.  Rita segera teringat dengan pesan Tuhan beberapa hari yang lalu.  Ternyata, inilah hasil yang dia dapat dari ketaatannya terhadap perintah Tuhan.
Kisah ini memiliki ending yang bagus. Apakah jadinya apabila Rita tidak taat terhadap perintah Tuhan..  Jadi teman-teman, marilah kita belajar taat atas perintah Tuhan dan hidup benar selaras dengan FirmanNya.
“Sebab besar upah orang yang menanti dan setia terhadap Firman Tuhan”
Jakarta, 12 Mei 2006
~ Yenny N. ~

Jodoh Dari Tuhan

"Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu". Kejadian 2:23

Akhir-akhir ini si Heri jadi rajin banget berdoa.  Bukan karena disuruh sama Pak Pendeta ato sedang belajar menjadi pendoa syafaat.  Melainkan karena dari taon ke taon Heri selalu ngejomblo melulu.  Padahal umur udah nyaris seperempat abad.
Jadi si Heri rajin banget ngedoain calon pasangan hidupnya dan yang lebih hebat lagi, doi selalu ngedoainnya pake doa Yabes!  Busyet, dahsyat benerrr!   Iya dong!  Kalo dipikir-pikir sebenernya Heri pinter juga, soalnya kalo pasangan hidupnya nanti adalah orang yang sangat diberkati Tuhan dan memiliki pelayanan yang dahsyat, Heri pun pasti akan nerima ‘cipratan’-nya.  Hehehe..
Kita yang masih ngejomblo juga pasti sering buanget ngedoain calon pasangan hidup kita.  Terutama berdoa agar Tuhan cepat-cepat mengirimkan calon pasangan hidup kita.  Yah yang model begini sih sebenernya sah-sah aja.  Tapi pernahkah kita berpikir bahwa Tuhan ingin agar kita bisa membenahi karakter kita dulu yang amburadul sebelum kita ngedapetin pasangan hidup kita.?
Kalo kita melihat gaya berpacarannya orang dunia, tentu kita bakal ngiri abis melihat keromantisannya mereka.  Kemana-mana selalu pergi berdua, makan bersama, selalu terlihat bahagia dan tidak ada masalah. 
Sebenernya gaya berpacaran yang seperti itu cukup berbahaya, karena yang mereka tampilkan hanyalah sisi baiknya saja.  Berdasarkan pengalaman penulis, pada umumnya ketika mereka menikah, mereka cenderung tidak bisa saling menerima ketika sifat asli pasangannya kelihatan. 
Jadi sebelum kita memutuskan untuk berpacaran ada baiknya jika kita membenahi karakter kita terlebih dahulu agar memiliki kasih sejati yang meliputi respek, penghormatan, penghargaan dan tenggang rasa antara satu dengan yang lain.  Setelah itu, tinggal tunggu waktunya Tuhan. 
 Inget~!  Tuhan lebih mengenal diri kita daripada diri kita sendiri, jadi Dia mengetahui orang yang tepat dan waktu yang tepat untuk memulai suatu hubungan.
* * *
Jackson Rex, “Pernikahan dan Rumah Tangga”, Gandum Mas, Malang. Hal.64
Nb. Terima kasih banyak untuk Erik YR yang telah memperjuangkan tulisan ini agar masuk ke sebuah buku renungan harian. Walaupun tidak dimuat, tapi saya tetap menghargai dan berterima kasih atas usahanya. (^__^)v
Jakarta, 12 Mei 2006
~ Yenny N. ~