Halaman

Rabu, 03 Agustus 2011

Pengemis Buta

Siang hari yang panas terik, Rio pulang dari sekolahnya sambil berjalan kaki. Di tengah jalan, Rio bertemu dengan seorang pengemis tua.  Warna kornea matanya abu-abu.  Seorang pengemis buta.
“Minta sedekah, neng!” teriak pengemis itu ketika mendengar derap langkah Rio.
Tiba-tiba, timbul niat iseng dibenak Rio.  Rio segera mengambil sebuah batu kerikil kecil, lalu memasukkannya ke dalam kaleng penadah pengemis itu.
“Terima kasih, neng!” seru pengemis itu tersenyum.  Dia tidak mengetahui benda yang dimasukkannya bukanlah uang logam.
Rio tersenyum simpul, penuh kemenangan karena sudah berhasil mengerjai pengemis buta itu, lalu bergegas pulang menuju rumah.
Beberapa bulan sesudah kejadian itu, Rio merasa ada yang tidak beres dengan matanya. Dengan ditemani oleh ibunya, dia memeriksakan mata disebuah optik kacamata.
Saat diperiksa dengan komputer.. “Maaf, nak.  Mata kamu yang sebelah kiri kok tidak ada titiknya?  Kamu buta ya?” kata petugas optik kacamata.
Bagai disambar petir, Rio segera menutup mata sebelah kanannya untuk mencoba melihat dengan mata kiri.  Dan ternyata… gelap!  Dia tidak melihat secercah sinar pun.
“Huaaa.. mama… kenapa jadi begini?” isak Rio kepada mamanya.
Dalam perjalanan pulang, Rio bercerita kepada ibunya tentang kejadian beberapa bulan yang lalu, saat dia bertemu dengan seorang pengemis tua.
“Satu-satunya jalan, mungkin kamu perlu minta maaf kepada pengemis tersebut,” ujar ibunya bijak.
Saat bersekolah, Rio merahasiakan kondisinya tersebut kepada teman-teman sekelas karena malu.  Jadi mereka tidak ada yang tahu kalau Rio telah menjadi buta.
Ketika pulang sekolah, Rio mencari-cari pengemis buta tersebut.  Selama berhari-hari Rio mencari.  Tapi pengemis tersebut sudah tidak ada di tempatnya.
Rio berdoa kepada Tuhan minta disembuhkan, memeriksakan mata ke Eye Center, mengiikuti setiap Kebaktian Kebangunan Rohani dari hamba-hamba Tuhan berkarunia penyembuhan yang sedamg berada di kotanya. Tapi semuanya: Nihil!  Tidak mendapat hasil.
Pada suatu hari, ketika Rio sedang bermain sepak bola bersama teman-teman sekompleksnya..  Tiba-tiba Tuhan berkata, “Coba kamu lihat matahari!”
Rio segera menutup mata sebelah kanannya untuk melihat dengan mata kiri.  Tiba-tiba, ia bisa melihat sinar matahari.  Setelah itu ia bisa melihat teman-temannya secara jelas!
“Puji Tuhan!!” seru Rio kegirangan.  Rio segera undur diri dari teman-teman sepermainannya untuk pulang ke rumah, lalu memberitakan berita kesembuhannya itu kepada seluruh keluarganya yang sedang berada di rumah.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, Rio belajar untuk tidak berbuat usil lagi kepada semua orang.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” Matius 22:39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar