Senin, 14 Mei 2012

Wisata ke Kota Phuket, Negeri Thailand


Ini adalah pertama kali saya menginjakkan kaki ke luar negeri.
Saya, my mom dan rombongan dari Pendidikan Umum Bethel (PU Bethel) Petamburan,  pergi ke Phuket - Thailand dari tanggal 5 s/d 9 Januari 2011. Berikut catatan perjalanannya..

Hari ke-1
Kami, sebagian dari rombongan dari PU Bethel Petamburan, berangkat ke bandara Soekarno Hatta kira-kira jam tiga sore. Setibanya disana, kami bertemu dengan teman-teman yang lain. Total jumlah rombongan kami: 20 orang.
Sampai di bandara, kami menunggu sebentar, lalu naik pesawat Airbus AirAsia jam tujuh lewat seperempat. Selama kurang lebih tiga jam, kami berada di dalam pesawat.
Setibanya di Thailand; jam setengah sebelas malam. Kami menginap kota Patong. Tepatnya; di hotel “Bangkok Residence Hotel.” Suasana malam di kota Patong, mirip dengan daerah Legian – Bali; ramai! Banyak; toko-toko kecil, restoran-restoran kecil, bar/pub kecil, maupun hotel-hotel kecil di sepanjang jalan.

Hari ke-2
Rombongan kami, mengendarai bis sewaan. Ada sopir, guide dan co-guide. Guide dan co-guide kami bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Sehingga perjalanan wisata kami tidak mengalami kendala yang berarti.
Tempat wisata pertama yang kami kunjungi adalah toko “Gems Jewelry.” Tempat jualan perhiasan dan suvernir khas Thailand lainnya. Seperti; tas kain, dompet kulit, dupa aromaterapi, patung Buddha, patung gajah, dsb. Interior toko “Gems Jewelry” serupa dengan toko ‘Batik Keris’ di Indonesia. Pelayannya melayani kami dengan profesional!
Perjalanan dilanjutkan ke wihara Wat Chalong. Wihara terbesar di Phuket dan terkenal di dunia.

Wihara Wat Chalong (Phramahathat Chedi) adalah bangunan yang paling menonjol di Chalong Wat. Dibangun pada tahun 1998. Wat Chalong pertama kali didirikan pada tahun 1837 selama pemerintahan Raja Rama II (1809-1842). (Sekedar info: Wihara ini sudah beberapa kali mengalami renovasi dan pernah berpindah tempat)
Bentuk bangunan wihara ini sangat artistik! Ketika kami masuk ke dalam, kami mesti melepaskan sandal. Lantainya sangat bersih! Saking bersihnya, sampai tidak ada debu yang menempel di telapak kaki kami.
Di dalam ruangan, kami terpesona dengan disain interior, maupun patung-patung Buddha-nya sangat indah! Semuanya di dominasi dengan warna emas. Membuat kami ingin mengabadikannya dengan kamera.

Malam harinya, kami pergi ke tempat pertunjukkan ladyboys (waria) yang bernama: “Simon Cabaret.” Tiket masuknya; untuk VIP = 1.000 bath, tribun = 700 bath. (satu bath sekitar Rp 305,-)
Kami semua duduk di tribun, di bangku paling depan.
Dalam pertunjukkan ini, kami menonton tanpa berkedip!
Para waria yang sangat cantik!! menari dan menyanyi secara lipsync. Mereka sungguh tidak bisa dibedakan dengan wanita.. (kecuali jika kita ajak bicara)
Tata lampu, dan layar dekorasinya sungguh dramatis! Ada nuansa China, Korea, Mesir, India, Thailand, dll. Video Klip (VK) grup musik Aqua (dengan lagu “Barbie Girl”-nya), Lady Gaga (dengan lagu “Bad Romance”). Semua ladyboys dan penari latarnya, menari dan berkostum sesuai dengan nuansa/tema lagu tersebut!
Oya, ada juga ‘Hudson’ made in Thailand (orang yang berpakainya setengah wanita dan setengah pria) tapi Hudson ini tidak bisa dua suara. Pakenya lipsync.
Masih hebatan negeri kita doong?! ;p
Saya sempat berfoto dengan ladyboys-nya. Masing-masing ladyboys menarik uang tip sebesar 50 bath.
 
Hari ke-3
Hari ini kami pergi ke pulau Khao Ping Khun.  Dengan mengendarai perahu kecil, yang muat untuk 25 orang.  Pulau ini disebut juga dengan pulau ‘James Bond island’ karena, dulu waktu tahun 70-an, pernah diadakan shooting film James Bond, yang dibintangi oleh Roger Moore.
Pulau James Bond island berbau amis! Penuh dengan pedagang suvenir, kerang-kerangan, mutiara; maupun cumi bakar. Di bagian belakang pulau, semua orang berfoto dengan latar belakang; Pha Nga Bay. Sebuah pulau yang bentuknya seperti batu menhir* terbalik.  Setelah ke James Bond island, kami menyusuri hutan bakau.  Lalu tiba di restoran terapung.  Sebuah restoran kecil yang terletak di pinggir hutan bakau.  Disini kami makan siang dengan menu; sup tom yam, telur dadar, capcay dan aneka seafood.

Hari ke-4
Dari Phuket kami naik kapal laut bertingkat tiga ke pulau Khai Nok Island.
Di Khai Nok Island, pasir pantainya berwarna putih, penuh dengan kerang dan terumbu karang kecil yang tersapu oleh ombak. Di telapak kaki terasa kasar, air lautnya berwarna biru kehijauan dan kadar garamnya tinggi! Disini banyak batu karang yang indah. Cocok untuk foto-foto! Ikan hias yang kecil-kecil, berani berenang di pinggir pantai. Seolah-olah tidak takut ditangkap orang.
Perjalanan dilanjutkan kembali ke Phi Phi island.  Phi Phi island adalah lokasi utama kunjungan para turis mancanegara. Keindahan pulau Phi Phi ter-ekspos ke seluruh dunia pada saat Leonardo DiCaprio shooting film “The Beach,” di Maya Bay awal tahun 2000-an kemarin.
Butuh waktu sekitar satu jam dua puluh menit dari pulau Khai Nok island menuju tempat itu.
Setibanya di pantai Maya, saya melompat dari sekoci kecil yang disauhkan dari kapal utama.
Saat menjejakkan pasir.. Wuaah! Pasir pantainya itu.. (terasa) lembut sekali di telapak kaki!!! Benar-benar lembut, empuk dan nyaman!! Saya jadi sering merendamkan kaki di air lautnya yang sejuk (dan tidak amis!) Sambil mengibas-ngibaskan pasir di kaki saya.. (jadi nyesel ga ikutan berenang! :) )
Hamparan pasir putih di sepanjang pantai, dengan semak-semak berbentuk hutan kecil di tengah pulau, menambah ke eksotisan Maya Bay!
Maya Bay terkenal dengan keindahan view; (pulau) Phi Phi Don dan Phi Phi Lei yang dipisahkan oleh selat kecil. Bentuknya seperti; dua buah blok gunung batu yang dipisahkan oleh air laut berwarna hijau toska. Pokok e, pemandangan alam di pulai ini; Buagus banget dech!! (two thumbs!)
Rata-rata, para wisatawan asing itu; berenang dengan memakai bikini. Yang laki-lakinya memakai celana hotpants. Buat yang ga’ berenang, mereka berjemur atau berjalan mondar-mandir sambil berbikini/berhotpants plus sunglasses! wOW!!
Setelah bermain-main air di Maya Bay, terakhir kami mengunjungi pulau Monkey Cave.
Disini kami tidak berlama-lama, di pelabuhan. Hingga tidak ada kejadian menarik untuk diceritakan.

Hari ke-5
Sepanjang siang, kami menghabiskan waktu dengan mengepak-ngepakkan koper untuk dibawa pulang. Di dalam bis, kami dibawa ke toko t-shirt murah dan toko snack makanan kering. Seperti; buah-buahan kering, hewan laut yang dikeringkan (ikan teri, juhi, kepiting). Setelah itu kami take off naik pesawat AirAsia menuju Jakarta.
Demikianlah perjalanan saya selama di Phuket – Thailand.

Informasi lainnya:
Binatang
Di Phuket, hewan yang berkeliaran dimana-mana adalah; anjing. Disana tidak saya temui; kucing, tikus, unggas (walau setiap hari makan telur dadar dan telur bebek).
Makanan
Mungkin karena saya ikut tur, jadi tiap hari; pagi; sarapan di hotel (dengan menu non halal), siang dan malam makan; sup tom yam, capcay, telur dadar dan aneka seafood! (sampai blenger!) Disini telur dadar merupakan salah satu jenis menu restoran. Beda dengan Indonesia; yang merupakan menu rumahan.
Lingkungan
Pada umumnya, di Phuket keadaannya tertib, lancar (ga macet!), bersih dan aman.

Epilog
Phuket merupakan tempat wisata yang terkenal di dunia dengan pemandangan alamnya yang masih original. Jika kamu suka dengan pemandangan laut, maka wisata ke Phuket cocok buat kamu! ;)
______
* Menhir = batu besar yang ada di komik Asterix dan Obelix

1 komentar:

  1. bagus banget.....jadi pengen traveling dech....hehehe

    BalasHapus