Halaman

Tampilkan postingan dengan label 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2008. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2011

Lina Sang Penulis

“Lin, cerpen kamu apa sudah siap?  Jangan lupa ya, deadlinenya tanggal 5 Desember!” seru Ricka mengingatkan Lina.
“Iya!  Jangan khawatir!”
“Lin, tahun ini kamu yang membuat cerpen edisi natal, lho!” seru pak Tonny.  “Tahun lalu Ricka yang membuat cerpen natalnya..”
“Beres, pak!”  jawab Lina.

Lina seorang new comer di dunia kepenulisan, gadis enerjik yang wajahnya mirip Gita Gutawa ini langsung bergabung pada redaksi majalah “Anak Imut Indonesia (AII) begitu lulus kuliah. AII adalah suatu majalah anak pemeluk agama Kristiani, yang pamornya lumayan beken di tanah air Indonesia.  Selevel dengan majalah Bobo.

Sebenarnya Lina sendiri bukan alumni sekolah jurnalistik.  Melainkan dari bidang IT.  Tapi ia tidak hobi membuat program komputer.  Lebih senang mempergunakannya.
Jadi, ketika lulus kuliah, ia langsung melamar bekerja di majalah anak.  Bukan di majalah dewasa sekaliber Femina. Kenapa?  Sekali lagi itu karena ia bukan lulusan sekolah jurnalistik!  Jadi ia tidak menguasai (dan mengerti) kosa-kata tingkat tinggi seperti; “observasi,” “retorika,” “agitasi” dan lainnya.  Ia lebih menguasai kosa kata sederhana.  Kosa-kata yang anak kecil pun dapat mencernanya.
“Lin, cerpen kamu yang judulnya ‘Anak Ayam Jago’, bagus!!” ujar Windy teman gerejanya.
“Thanks!” Jawab Lina.
“Lin, cerpen kamu yang judulnya ‘Makan Sayur,’ lucu!” seru Desta, saudara sepupunya.
“Lin……..” dan sederet pujian lainnya dari pihak keluarga, mantan teman-teman kuliah, teman-teman gereja dan teman-teman nongkrong membuat perasaan Lina menjadi ‘melambung terbang setinggi langit.’

Sampai suatu ketika, Lina mengirim cerpen andalannya ke sebuah majalah remaja.  Setelah menunggu kurang lebih dua bulan, ternyata cerpennya DITOLAK!

“Lina yang baik, Trims ya untuk kiriman cerpenmu.  Tapi kalo boleh memberikan kritik.. Boleh ya, kami memberikan kritik?  Ini demi kebaikan kamu juga..  Untuk ukuran cerpen, isi cerpen kamu terlalu pendek.  Tata bahasanya kaku dan datar.  Coba deh kamu lebih banyak lagi membaca novel-novel remaja.  Dari situ kamu jadi tahu cara membuat gaya bahasa yang asyik punya dan tata bahasa kamu menjadi lebih kaya’.  Kami tunggu ya kiriman cerpen kamu selanjutnya!”

Ttd,
Redaksi Majalah CINDY

Dengan lesu, Lina men-delete isi e-mail tersebut.  Saat itu, Lina jadi tersadar pentingnya kritik dan saran dari teman-temannya.  Karena selama ini; baik pihak teman maupun keluarga, tidak ada seorang pun yang memberi input berupa kritik/saran membangun.  Yang ada hanyalah, “Wow!  Cerpenmu bagus sekalii!!”  serta sederet pujian-pujian lainnya.
Lina berpikir, ‘Dimana ya, tempat belajar mengarang cerpen di Indonesia?  Setau gue, belum ada sekolah resminya disini..!”

Keesokkan harinya, saat bekerja di kantor, Lina browsing-browsing internet.  Mencari tempat belajar mengarang cerpen yang oke punya!
“Coba masuk ke website Penulis Lepas dot Com aja!” seru Teddy, teman kantornya.  Rupanya Teddy sudah mengetahui rumour tentang Lina ingin belajar mengarang cerpen secara profesional dari Ricka, teman satu cubical Lina.

Website Penulis Lepas dot Com di klik.  Kemudian Lina membaca postingan dari para penulis Indonesia.  Terutama tulisan Ali Muakhir yang menurutnya sangat bagus!  Benar-benar menambah wawasan!!

Tidak lama kemudian, Lina meng-klik gambar “Sekolah Menulis Online.”  Melihat-lihat dan membaca penawarannya dengan seksama.  Berhubung terbatasnya dana, Lina yang semula ingin mengambil kelas utama (membayar satu semester lunas dimuka), akhirnya memilih mengambil kelas intensif saja.. (mencicil setiap bulan)

Lina sebetulnya ingin sekali menerbitkan cerpen-cerpennya dalam sebuah buku kumpulan cerpen.  Juga ingin bisa menulis secara konsisten seperti; Dee Lestari, Raditya Dika, Sitta Karina, de el el.  Tetapi ia telah banyak mendengar banyak berita bahwa; banyak banget penulis pemula yang sudah membuat buka pertama.  Langsung meledak di pasaran, namun setelah itu mereka tidak mampu membuat buku kedua, ketiga, dan seterusnya.  Karena semua ide; baik aspirasi mau pun isnpirasi sudah dituangkan habis-habisan di buku pertama. Hingga mereka menjadi benar-benar kehabisan ide.  Lina tidak mau bernasib sama!  Oleh sebab itu, ia memilih menjadi cerpenis  daripada novelis, agar ide-idenya dapat dituangkan sedikit demi sedikit hingga tidak pernah kehabisan ide untuk menulis. Dengan bergabung di SMO, Lina berharap, semua cerpennya dapat dikomentari oleh ahlinya; pak Jonru.  Supaya dapat berkembang menjadi lebih bagus lagi.

“Way to go, Lina!”  seru Teddy (sambil tersenyum) yang diam-diam menaruh hati pada Lina. End

Jakarta, 2010
~ Yenny N. ~

Penerbit Nakal

Sore itu, Anto sedang bermain internet di rumah Vino, teman sekelasnya.  Mereka sama-sama kelas VI SD di sekolah Pelita Kasih.  Sedang asyik-asyiknya browsing, tiba-tiba Anto melihat sebuah lomba cerpen yang diadakan oleh PT. Chimara.  Kategorinya; untuk pelajar, mahasiswa mau pun umum.

“Kriteria lomba; ditulis pada kertas kuarto sebanyak 6 – 8 halaman, jarak spasi 1,5, jenis huruf Arial.   Pemenang pertama, masing-masing mendapatkan uang tunai Rp 10.000.000,-, piala dan voucher belanja Rp 2.500.000,-.  Pemenang kedua, masing-masing mendapatkan uang tunai Rp 8.000.000,-, piala dan voucher belanja Rp 1.500.000,-.  Pemenang ketiga masing-masing mendapatkan uang tunai Rp 5.000.000,- piala dan voucher belanja Rp 1.000.000,- dari setiap kategori peserta.”

“Wow!  Boleh juga nich!!” batin Anto.  “Vino! Vino!  Ada lomba cerpen dengan hadiah pertama uang tunai 10 juta nih!” panggil Anto.

Vino yang sedang main game PS2 segera berhenti dan berlari menghampiri Anto.  “Vin, kita berdua ‘kan suka membuat cerpen untuk mading sekolah, kali ini ada kesempatan bagus untuk mengadu bakat kita berdua..  Lumayan, hadiahnya bisa kita belikan laptop nantinya” seru Anto sambil cengengesan.

“Tapi, alamat mengirimnya dimana?” tanya Vino.

“ini.. perusahaannya hanya mencantumkan alamat e-mail saja,” sahut Anto.  “Mungkin supaya kita enggak ribet-ribet ngeprint di kertas,” sambung Anto lagi.

“Apa ga’ salah?” sahut Andi, kakak Vino yang sudah mahasiswa.  Rupanya dari tadi dia mendengarkan percakapan adiknya sambil membaca koran.  Andi lalu melipat koran dan menghampiri adik-adik kecilnya.

“Biasanya kalo perusahaan besar, pasti menuliskan alamat kantornya.  Karena kalo lewat e-mail, siapa pun bisa membajak hasil karya orang lain…”

Andi lalu ikut membaca iklan lomba tersebut.  “Ini juga ada yang aneh!  Masa’ lomba mengarang cerpen hadiah juara satunya 10 juta.  Majalah-majalah terkemuka di ibukota Jakarta saja paling tinggi kasih hadiah 4 juta rupiah..  Lagipula, ini disebutkan ada voucher belanja, tapi belanja dimana?”

“Wah.. kakak kok hebat banget bisa tahu segitu banyak?”  Tanya Vino.

“Yah karena teman kakak ada yang pernah kena tipu iklan-iklan seperti itu.  Ketika dia kirim cerpen, ternyata karyanya dimuat di sebuah majalah remaja.  Tapi nama penulisnya adalah orang lain.

“Ooh..  begituuu!” sahut Anto dan Vino berbarengan.

“Iya!  Kalian musti berhati-hati jika ingin mengikuti lomba mengarang cerpen lewat internet, terutama bila identitas perusahaannya tidak jelas.  Sebaiknya kalian banyak membaca majalah-majalah yang suka mengadakan lomba cerpen atau bertanya dulu kepada orang dewasa yang lebih berpengalaman dalam mengirim tulisan ke media cetak agar tidak terjebak oleh penerbit nakal.”

Selanjutnya Anto kembali melakukan browsing-browsing internet, Vino melanjutkan main game PS2-nya sedangkan Andi pergi ke dapur untuk memasak mie instant.

Jakarta, 2010
~ Yenny N. ~

Kebun Stroberi

Pagi ini Arif semangat sekali. Karena dia pergi ke Puncak bersama teman-teman gerejanya.  Mereka naik bis AC. Di dalam bis mereka bernyanyi-nyanyi, riang gembira.

Setibanya disana, mata Arif  menerawang.. mengagumi keindahan pohon-pohonan yang ada di kebun tersebut.  Semilir angin, membawa keharuman bunga-bunga lavender hingga tercium di hidung Arif.  Pikiran yang penat pun berangsur-angsur hilang.

“Andi! Mira!  Rita, Edi, Milka, Desy, Ratno!  Kalian masuk ke kelompok ‘Yosua’!”  Suara Panitia yang memanggil nama-nama peserta untuk dibentuk sebuah kelompok. Membuyarkan lamunannya..

Acara lomba pun segera dimulai. Ada lomba menerbangkan pesawat hingga masuk ke dalam kotak, makan kerupuk, mengumpulkan bola yang bertuliskan abjad, hingga membentuk suatu kata. mengangkat bambu dengan jari secara bersama-sama, membawa air dalam gelas dengan menggunakan kain, dan sebagainya.

Jam dua belas siang, mereka makan bersama, setelah itu acara dilanjutkan dengan bermain tebak-tebakan; menyebutkan nama anak-anak Yakub, menyebutkan 10 orang wanita yang melayani Yesus, nama lengkap dan tanggal lahir pastor, dan lain-lain.

Setiap orang atau kelompok yang menang lomba atau berhasil menjawab pertanyaan dengan baik, diberikan sebuah balon.  Tiap orang diberi peniti untuk menusuk balon.  “Dor!  Dor Dor!” Bunyi beberapa balon yang dipecahkan.  Tiap orang mendapat secarik kertas berisi nama-nama hadiah.

“Indah dapat; tas!  Anto dapat; payung!  Reza; dapat botol air!”

“Horeee!!!” teriak anak-anak serempak.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan pergi ke kebun stroberi.  Seumur hidup, baru kali ini Arif pergi ke kebun stroberi.   Arif merasa antusias sekali dalam memetik buah stroberi yang masih merah-merah.  Ternyata, buah stroberi itu harus dipetik dengan menggunakan gunting.  Sebab, jika menggunakan tangan, maka tanaman tersebut dapat tercabut sampai ke akar-akarnya. Setelah mencucinya dengan air bersih, Arif memakan buah-buahan stroberi tersebut.

Selesai mengunjungi kebun stroberi, mereka diberi waktu untuk acara bebas.  Ada yang memesan jagung bakar, ada yang foto-foto, ada yang ngobrol, ada yang mancing di kolam, dan lain-lain.

Arif mencatat semua pengalamannya itu di dalam buku diary.  Dia merasa bersyukur sekali karena dapat merasakan kebaikan Tuhan, melalui pemandangan alam yang begitu sempurna.  Sepulangnya kembali ke Jakarta , mereka membawa segudang kenangan indah.

~ Yenny N. ~
* * *
Dikirim ke majalah AMI dan dimuat tahun 2008

Iman Seorang Sopir Bis

Hari itu Nella pergi ke sebuah mal dibilangan Jakarta Selatan.  Dia menyetop sebuah bis umum.  Karena banyak bangku yang sudah terisi penuh, maka Nella duduk di samping sopir bis.
Selang tidak lama di tengah perjalanan.. tiba-tiba “DORRR!!”
Seketika itu juga para penumpang bis, panik!  Mereka beramai-ramai hendak segera turun.
“Kalo mau turun.. turun!  Kalo enggak, bisnya berangkat lagi!”  ujar sopir bis, setengah berteriak.
“Enggak, bang!”  kata salah satu ibu.
“Tenang aja, bu!  Kalo ajal belum tiba, semua pasti selamat!  Tuhan menyertai kita.”
Nella melirik kearah sopir bis yang beriman itu.  Dilihatnya sebuah kalung salib Kristus tergantung dilehernya.
“Ban belakangnya aja ‘kan yang pecah?  Ban dalemnya tidak pecah?”  teriak supir bis pada kernetnya.
“Ya!  Tidak pecah!!”
Bis kembali berjalan.  Tidak lama kemudian Nella turun di depan mal yang dia tuju.

Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Lukas 18:8

~Yenny N. ~

Anak Gadis yang Mendurhaka kepada Ibunya

Pada suatu hari, Nina nonton acara televisi bersama keluarganya.  Tak biasanya Nina nonton TV.  Karena ia lebih suka membaca buku daripada nonton acara sinetron.  Untuk menunggu sepupunya yang datang berkunjung.  Nina menghabiskan waktu dengan menonton TV saja.  Film drama lepas kali ini yang ia nonton berjudul, “Anak Gadis yang Mendurhaka Kepada Ibunya.”
“Waduh!  Nancep banget judulnya!” guman Nina.
Selama nonton film tersebut, Nina melihat bagaimana seorang gadis yang tadinya saleh, jadi kurang ajar kepada ibunya karena pacaran sama seorang laki-laki tak seiman.  Ketika ibunya ingin memeluk gadis tersebut dari belakang, ia malah menepis tangan ibunya. Setiap kali ibunya menasehati, ia malah memaki-maki ibunya..
Nina menangis setiap kali melihat adegan gadis itu melawan ibunya.  karena Nina jadi teringat dengan sikap Nina selama ini ke mama.  Betapa Nina suka membantah, karena dia pikir; dia sudah berusia 12 tahun, tapi segala keperluan dan tindakan Nina kok masih diatur-atur, seperti anak TK.
“Kenapa saya ga’ pernah dikasih kepercayaan?” teriak Nina pada suatu ketika.
Film itu membuat Nina jadi bercermin.  Bahwa sikap ibu, sebenarnya ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.  Bukan bermaksud mengekang kebebasan Nina.
Sore harinya, Nina berdoa mohon pengampunan Tuhan.  Tiba-tiba suara hati Nina berkata, “Sekarang, minta maaf ke mama-mu.”  Nina masuk ke dalam kamar ortu.  Mama lagi setengah tidur..
“sekarang saatnya..”
Nina memandangi wajah mama..
“Sekarang..”
Langsung aja Nina menangis keras, “Ma, maafin Nina!  Nina udah mendurhaka sama mama!!  Tadi siang Nina nonton sinetron tentang anak yang mendurhaka kepada mamanya.”
Mama hanya diam.  Papa menghibur Nina.
Ketika Nina mandi, terdengar suara dari dalam batin, “Tuhan sudah mengampuni dosamu!”
Semenjak saat itu, Nina tidak membantah lagi perintah ibunya.  Jika kemauan Nina tidak sejalan dengan ibunya, maka Nina akan belajar untuk mengalah dan bersabar.

Hormatilah orang tuamu, supaya lanjut umurmu..” Keluaran 20:12

~ Yenny N. ~

Dikirim ke redaksi majalah AMI
Dimuat di majalah AMI No.18 bulan Februari thn 2009

Bakau dan Tembakau

Pagi hari yang cerah, saat sarapan pagi, Jessie yang masih kelas dua  SD, bercakap-cakap dengan kakaknya, Shinta.
“Kak, hari Sabtu besok, sekolah Jessie mau mengadakan tamasya menanam pohon bakau di Ancol!”
“Wah.. bagus dong!  Kalo kakak ga’ kuliah, juga pengen ikut!” canda kakaknya.
“Iya, kak.  Kalo dibolehin sama bu guru, kakak juga boleh ikut!” sahut Jessie dengan polosnya.
“Kak, apa sih bedanya ‘bakau’ dengan ‘tembakau’?”
“Kalo bakau itu ditanamnya di laut.  Gunanya untuk menahan air laut supaya tidak pasang hingga jauh ke daratan.  Sedangkan tembakau ditanamnya di gunung.  Daunnya digunakan untuk rokok.  Eh.. tapi sebagai anak laki-laki, kamu kalo sudah besar tidak boleh merokok ya?  Karena tubuh kamu adalah bait Roh Kudus!  Masa’ Roh Kudus dikepuli asap rokok Kudus?”
“Hahahaha…” tawa mereka berdua.
“Tapi, bapak kok boleh merokok?”
“Karena bapak belum tau kebenaran ini..  kalo Tuhan memang mengizinkan manusia merokok, pasti disalah satu tubuhnya akan dipasangi cerobong asap!  Nah di tubuh kamu tidak ada cerobong asapnya ‘kan?”
“Tidak, kak?!”
“Kakak juga tidak, bapak juga tidak..  Itu berarti Tuhan tidak menghendaki kita merokok!”
“Tapi di Alkitab tidak ada ayat yang melarang kita merokok?”
“Ada!  ‘Jangan membunuh!’ (Keluaran 20:13)  Kalo merokok, kita bisa cepat mati karena kena kanker paru-paru seperti bapaknya si Benny yang perokok berat.  Seharusnya dia bisa hidup sampe umur 75 tahun, dipersingkat jadi 58 tahun.”
“Ooh.. gitu toh!” seloroh Jessie, sambil manggut-manggut.
“Ayo kita habisnya roti coklatnya..  Siapa yang paling cepat, dia yang duluan berangkat sekolah!”
“Ayooo!” seru Jessie, penuh semangat.

Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus?  Muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (I Korintus 6:19, 20b)

Jakarta, 2008
~ Yenny N. ~

Katakan dalam Doa

 “Bodoh!”. Tiba-tiba teriak Ani pada pembantunya yang melakukan kesalahan lagi.  Kalo mau dipikir-pikir lewat logika, pembantu Ani yang satu ini memang punya pikiran yang paling tulalit di antara pembantunya yang lain.  Setiap kali kerja, pasti ada saja kesalahannya.
Kalo mau ingat-ingat Firman Tuhan, Tuhan memang mengajarkan supaya kita memberi pengampunan 7 x 70 kali atas kesalahan orang lain.  Dan yang namanya orang melakukan kesalahan itu sudah wajar-wajar saja alias manusiawi.  Tapi kalo salah terus.. siapa juga yang ‘ga kesal?
Akhirnya ketika Ani sedang bersaat teduh.. Tuhan menegur Ani melalui perumpamaan tentang pengampunan (Matius 18:21-35) tetapi Ani tetap cuek-bebek dan menganggapnya sebagai “Angin lalu saja”.
Dan kamu tahu apa yang terjadi?  Di sekolah, Ani  menerima perlakuan senioritas dari kakak-kakak kelasnya.   Kali ini Ani benar-benar merasakan sakitnya ditindas oleh orang lain.  Sampai-sampai ia minta KASIH BAPA agar dapat mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatinya.
Tidak lama kemudian Tuhan berkata kepada Ani, “Minta maaf sama pembantumu!”.
Waah kalo dipikir-pikir.. “Yang bener aja, Tuhan!  Minta maaf sama pembantu?  Apa ga’ salah?  Saya ini ‘kan majikannya!”.  Ani jadi sensitif sendiri sama pembantunya..
Belakangan-belakangan Ani baru mengetahui kalo pembantunya yang ini rajin sholat.  “Ugh!  Serem amat!”, batin Ani.
“Wualah.. yang bener aja dong, Tuhan! Masa saya harus minta maaf sama pembantu?  Saudara-saudara saya yang lain juga suka ngata-ngatain dia.  Dan memang kenyataan koq kalo dia itu ……”, protes Ani.
Tapi Tuhan tetap berkata, “Minta maaf!”.
“Baik Tuhan!  Tapi Kau harus memberiku waktu yang tepat untuk minta maaf!”.
Beberapa hari kemudian.. Ani diberikan penyakit oleh Tuhan. (‘ga parah-parah amat koq!  Hanya masuk angin)  Sedangkan di rumah sedang tidak ada siapa-siapa yang dapat dimintai tolong selain pembantu tersebut.  Jadi, mau tidak mau, Ani minta tolong dia untuk memberi obat.
Ketika sang pembantu sedang memijitin punggungnya, Ani memberanikan diri berkata, “Embak Yu, saya minta maaf ya karena selama ini saya telah mengatai Embak ‘bodoh’”.
“Ah ga pa pa, Non!”, kata pembantunya sambil tersenyum tak menyangka.
“Sebenernya saya juga pernah dianggap bodoh sama bu guru.  Tapi saya berdoa sama Tuhan agar dikasih pinter”, kata Ani.
“Saya juga suka berdoa, Non!  Berdoa untuk Nyonya, dan lain-lain”.
Tidak lama kemudian, ketika pembantunya sudah pergi..  Ani memutar kaset lagu (rohani) Doen Moen.
Ketika sedang asyik mendengarkan narasi, terdengar kata-kata, “He can heal broken relationship”.  Dia dapat memulihkan hubungan yang rusak.
“Ha??”, Ani kaget.  Dia memutar ulang dan mendengarkan lagi kalimat, , “He can heal broken relationship”.  Dia memutar ulang kata-kata tersebut hingga tiga kali.
Kemudian Ani mengucap syukur atas pemulihan yang terjadi antara dirinya dan pembantunya.
Berdasarkan kisah diatas, teman-teman.. marilah kita berani merendahkan hati untuk meminta maaf kepada SIAPAPUN apabila kita bersalah.  Tanpa memandang STATUS orang yang telah kita sakiti.

Doa orang yang benar, bila dengan YAKIN didoakan, sangat besar kuasanya (tidak memandang siapa itu kamu) Yakobus 5:16b


* * *
Dikirim ke majalah AMI dan dimuat tahun 2008
~ Yenny N. ~

Pengemis Buta

Siang hari yang panas terik, Rio pulang dari sekolahnya sambil berjalan kaki. Di tengah jalan, Rio bertemu dengan seorang pengemis tua.  Warna kornea matanya abu-abu.  Seorang pengemis buta.
“Minta sedekah, neng!” teriak pengemis itu ketika mendengar derap langkah Rio.
Tiba-tiba, timbul niat iseng dibenak Rio.  Rio segera mengambil sebuah batu kerikil kecil, lalu memasukkannya ke dalam kaleng penadah pengemis itu.
“Terima kasih, neng!” seru pengemis itu tersenyum.  Dia tidak mengetahui benda yang dimasukkannya bukanlah uang logam.
Rio tersenyum simpul, penuh kemenangan karena sudah berhasil mengerjai pengemis buta itu, lalu bergegas pulang menuju rumah.
Beberapa bulan sesudah kejadian itu, Rio merasa ada yang tidak beres dengan matanya. Dengan ditemani oleh ibunya, dia memeriksakan mata disebuah optik kacamata.
Saat diperiksa dengan komputer.. “Maaf, nak.  Mata kamu yang sebelah kiri kok tidak ada titiknya?  Kamu buta ya?” kata petugas optik kacamata.
Bagai disambar petir, Rio segera menutup mata sebelah kanannya untuk mencoba melihat dengan mata kiri.  Dan ternyata… gelap!  Dia tidak melihat secercah sinar pun.
“Huaaa.. mama… kenapa jadi begini?” isak Rio kepada mamanya.
Dalam perjalanan pulang, Rio bercerita kepada ibunya tentang kejadian beberapa bulan yang lalu, saat dia bertemu dengan seorang pengemis tua.
“Satu-satunya jalan, mungkin kamu perlu minta maaf kepada pengemis tersebut,” ujar ibunya bijak.
Saat bersekolah, Rio merahasiakan kondisinya tersebut kepada teman-teman sekelas karena malu.  Jadi mereka tidak ada yang tahu kalau Rio telah menjadi buta.
Ketika pulang sekolah, Rio mencari-cari pengemis buta tersebut.  Selama berhari-hari Rio mencari.  Tapi pengemis tersebut sudah tidak ada di tempatnya.
Rio berdoa kepada Tuhan minta disembuhkan, memeriksakan mata ke Eye Center, mengiikuti setiap Kebaktian Kebangunan Rohani dari hamba-hamba Tuhan berkarunia penyembuhan yang sedamg berada di kotanya. Tapi semuanya: Nihil!  Tidak mendapat hasil.
Pada suatu hari, ketika Rio sedang bermain sepak bola bersama teman-teman sekompleksnya..  Tiba-tiba Tuhan berkata, “Coba kamu lihat matahari!”
Rio segera menutup mata sebelah kanannya untuk melihat dengan mata kiri.  Tiba-tiba, ia bisa melihat sinar matahari.  Setelah itu ia bisa melihat teman-temannya secara jelas!
“Puji Tuhan!!” seru Rio kegirangan.  Rio segera undur diri dari teman-teman sepermainannya untuk pulang ke rumah, lalu memberitakan berita kesembuhannya itu kepada seluruh keluarganya yang sedang berada di rumah.
Berdasarkan pengalamannya tersebut, Rio belajar untuk tidak berbuat usil lagi kepada semua orang.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” Matius 22:39

Anak Ayam Jago

Ada seekor anak ayam jago yang hobby berkelahi. Walaupun masih kecil, tapi dia berani menantang ayam-ayam jago lainnya yang lebih dewasa dan lebih besar.
Setiap kali berkelahi, anak ayam jago ini sanggup untuk menyerang dan berkelit.
Pada suatu ketika, ia menantang seekor ayam jago dewasa yang sedang tidur. Ayam jago dewasa yang merasa terganggu ini akhirnya meladeni aksi si ayam jago kecil. Setiap kali anak ayam jago hendak dipatok ayam jago dewasa, ia sanggup berguling kesana-kemari hingga tdk kena dipatuk oleh ayam jago dewasa. Hebatnya, walau anak ayam jago ini – akhirnya – kena diserang, ditonjokin dan ditindih-tindih sampai gepeng, tapi ia tetap maju terus (badannya utuh seperti tidak kenapa-napa).
Sampai pada titik kritis, dimana anak ayam jago tidak sanggup melawan.. (hanya kuat memberi satu tonjokan..) tiba-tiba ayam jago dewasa menjadi kaku. Dan sekali ditonjok oleh anak ayam jago, ia langsung lari terbirit-birit. Anak ayam jago yang merasa ‘menang’ dalam pertandingan ini merasa dirinya “HE MAN!” (Atau “He Chicken” yach? ~_~;) Dia sama sekali tidak menyadari bahwa dibelakangnya berdiri ayam jago yang badannya jauh lebih besar dari ayam jago yang dia kalahkan dan lebih kuat, yaitu: Bapaknya!
 Begitulah Bapa kita di Sorga, terkadang, Ia sepertinya ‘membiarkan’ anak-anakNya bergumul dalam menghadapi masalah ‘seorang diri’. Namun, ketika anak itu dilihatNya dalam keadaan bahaya, Ia siap siaga untuk menolong diri kita.
 Kamu dapat berkata: “Aku sendirian!”
Dan Tuhan menjawab: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  Ibrani 13:5
Tapi ingat ya, kamu tidak boleh melakukan perbuatan ini, karena itu sama saja dengan mencobai Tuhan.
* * *
Dikirim ke majalah AMI dan dimuat tahun 2008

Anjing Kecilku

Pagi ini Dinda merasa sedih.  Sebenarnya bukan hari ini saja ia merasa sedih.  Sudah berhari-hari wajahnya murung.  Karena hewan peliharaannya telah mati,  Selama ini Dinda memelihara seekor ajnjing kampung yang ia beri nama: Chiko.
Ibu merasa ikut sedih melihat anaknya setiap hari cemberut terus.
“Pa, bagaimana jika kita membelikan Dinda seekor anjing?  Siapa tahu kesedihannya menjadi sirna?”
“Baiklah, mam!  Nanti papa belikan Dinda seekor anjing peliharaan,” sahut ayahnya.
Tidak lama kemudian, Dinda berhasil menemukan ‘teman’ baru.  Ia suka sekali bermain-main dengan anjing sepupunya yang kecil dan lucu.  Seekor anjing Cihuahua.  Seperti anjing yang sering digendong-gendong oleh Paris Hilton.  Anak pengusaha hotel Hilton.
Dinda menggendong anjing tersebut kemana-mana.  Seperti lagu Embah Surip, “Tak gendong, kemana-mana..  Tak gendong, kemana-mana..”
Ayah Justin (baca: Jastin) ternyata hendak menjual anjing kecil tersebut.  Ia hendak memasang iklan di internet.
Tanpa basa-basi, ayah Dinda menyambut penawarannya.  Segera ia membayar lunas harga anjing tersebut.
Petang hari, anjing Cihuahua itu ayah bawa pulang ke rumah.
“Waah!  Makasih, pap!” pekik Dinda, bahagia, ketika ayah menyerahkan anjing itu kepada Dinda. 
Dinda memperoleh kebahagian kembali karena kali ini ia memiliki anjing kecil yang lucu!
Jakarta, 2009
~ Yenny N. ~

Makan Sayur, Enak?

“Bayam lagi.. bayam lagi.. bosan ah! Kataku ketika ibu menyuapi sayur bayam ke mulutku.
“Kalo makan bayam, nanti bisa kuat seperti popeye loh!” rajuk ibu.
“Glek! Uhuk!”
Aku yang tidak suka sayur akhirnya memakan sayur bayam buatan ibu dengan penuh penderitaan.
“Nah.. gitu dong, Rangga! Anak pinter..!” seru ibu sambil tersenyum.
Hari-hariku memang dipenuhi dengan makanan-makanan tidak enak. Aku paling benci makan sayur! Itu belum lagi ditambah makan telur ayam kampung yang dimasak setengah matang oleh ibu. Tubuhku karena tidak kuat makan telur setengah matang jadi banyak bisul. Entah itu di hidung, di tangan, mau pun di pantat.
“Sungguh masa kecil yang tidak enak!” pikirku.
Kata ibu, tubuhku ini kecil, kurus dan suka sakit-sakitan, karena sewaktu lahir aku prematur.  Dan benar, selama aku bersekolah, setiap bulan, selama lima hari, aku pasti tidak masuk sekolah.  Entah karena pilek atau batuk.  Terkadang selama seminggu, aku baru buang air besar sebanyak dua atau tiga kali.  Itu pun mengalami sembelit.  Oleh sebab itu, ibu selalu memberiku makan sayur-sayuran dan telur setengah matang.  Bahkan, bila aku sedang tidak mau makan telur setengah matang, ibu sampai mencekoki-ku segala.
Setelah dewasa, aku baru menyadari khasiat makanan-makanan itu. 
Bahwa makan sayur-sayuran bisa mengatasi sembelit dan menambah daya tahan tubuhku terhadap polusi yang dikeluarkan oleh asap knalpot kendaraan. Seperti; bis, motor, bajaj, dsb. Telur setengah matang bisa membuat tubuhku menjadi kuat/kebal terhadap berbagai macam penyakit 'langganan'ku, seperti; pilek dan batuk.
Sekarang aku jadi sangat suka dengan sayur bayam, kacang panjang, wortel, dan lain-lain. Telur setengah matang pun aku suka jika diberi kecap asin.


Jakarta, 2008
~ Yenny N. ~

Kasih Ayah

Sudah dua hari, semenjak Nia mengetahui ayahnya divonis dokter; sakit kanker getah bening.. Hari-hari Nia menjadi kelabu.
Dia selalu menangisi ayahnya secara diam-diam di kamar -  Karena takut kehilangan ayahnya – namun berusaha bersikap tegar di hadapan ayahnya.
Selama ini hubungan Nia dengan ayahnya tidak begitu akrab.  Nia paling malas ngobrol dengan ayah.  Sebab ayahnya suka menceritakan kepahitan hatinya terhadap orang-orang yang telah menyakiti dirinya.
Tapi kali ini.. Nia memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda.  Dia sadar, bahwa dia sangat mengasihi ayahnya.  Begitu pun ayahnya terhadap dirinya.  Setiap pagi, ayah selalu sibuk menyuruh pembantu untuk menyiapkan bekal sekolah Nia.  Kadang-kadang, ayah memasak sendiri.  Ayah Nia memang tidak bekerja kantoran.  Hanya menjual beberapa obat gosok racikan. 
Pada suatu malam, saat Nia tidur bersama ayahnya.. ayah Nia membelai kepalanya dengan lembut.  Nia hanya bisa tertegun.  Tidak tahu harus berbuat apa.
Siang harinya.. Nia berdoa kepada Tuhan dalam hati, terlintas dipikirannya sebuah rhema lagu rohani. lalu dia menyenandungkannya dengan lembut.
Bapaku Penuh Kasih   
Bapaku Penuh Kasih
Tak Pernah melupakanku
KasihNya Pulihkan Hatiku...
Ku tau DIA Perhatikanku..Slalu Perhatikanku

Saat Badai Menerpa
Air Mata Berlinang..
Tak pernah Kau Meninggalkanku
Kutau Dia Perhatikanku ..Slalu Perhatikanku

Dekat hatiMu Bapa...
Dalam DekapanMu...
Kucinta Kau ya Bapa
Kau lah segalanya..

Air mata mengalir di pipi Nia. makin lama makin deras.  Hingga terisak-isak.  Ia tahu waktunya tidak akan lama lagi untuk dapat bersama-sama dengan ayahnya.  Jadi Nia berusaha meluangkan banyak waktu untuk dapat bersama ayahnya. Yenny N.

Game Online Vs Belajar

“Tino, ayo buat pe-ermu!” panggil ibunya.

“Sebentar, ma! Lagi tanggung nih!” seru Tino yang sedang asyik main game online di kamarnya.

Semenjak komputer rumahnya dipasangi internet, Tino yang baru duduk di kelas empat SD, memang keranjingan sekali main game online. Karena dari sanaia bisa berkenalan dengan orang-orang lain yang juga sedang main game online lewat chatting, dan juga bisa ikut lomba untuk memperoleh skor tertinggi dimana hadiahnya berupa piala dan sejumlah uang tunai.

Setiap hari ia bisa bermain sampai tiga jam – sampai mata terasa lelah – hingga melupakan tugas-tugas sekolahnya. Jika ada pe-er atau ulangan yang diadakan minggu depan, ia baru membuat pe-er atau belajar dengan memakai sistem kebut sehari (atau dua hari). Jika tidak selesai membuat pe-er, mencontek pekerjaan teman pun tak segan-segan ia jalani. Beruntung, dalam soal menghadapi ulangan, otak Tino cukup encer. Sehingga ia selalu berhasil masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelasnya.

Tapi kali ini ia akan memasuki musim ulangan umum akhir semester dua selama satu minggu penuh. Namun Tino masih menunda-nunda belajar hingga hari Sabtu. Jadi pada hari Sabtu dan Minggu ia baru belajar sungguh-sungguh untuk beberapa mata pelajaran di hari Senin. Ia juga berhenti main game online, memfokuskan diri untuk belajar selama seminggu penuh.

Selesai menghadapi musin ulangan semesteran, kepala Tino terasa berat. Seperti mau pecah.. hingga ibunya memutuskan untuk membawa Tino berobat ke psikiatri.

“Anak ibu mengalami stress berat karena terlalu banyak berpikir!” demikian hasil diagnosis sang dokter. “Ia perlu istirahat selama seminggu,” sambung
dokter psikiatri, sambil membuatkan surat izin sakit dan resep obat.

“Tidak perlu dibuatkan surat keterangan sakit, dok! Karena setelah ulangan semester dua, Tino akan libur selama sebulan penuh!” tukas ibunya.

“Baiklah, kalau begitu. Nah Tino.. setiap tiga bulan sekali kamu harus datang kesini untuk kontrol sampai kamu sembuh total ya?”

“Baik, pak dokter!” ujar Tino.

“Terima kasih, dok!” seru ibunya seraya meninggalkan ruangan praktek.

“Tino, mulai saat ini kamu tidak boleh sering-sering main game online lagi!” hardik ibunya.

Tino hanya diam, menyesali apa yang sudah terjadi. Dalam hati ia berjanji akan lebih fokus belajar daripada menunda-nunda dengan bermain game online.

June 15, 2008
~ Yenny N. ~
 * * *
Dikirim ke redaksi Warta Minggu dan sudah dimuat di buletin gereja Warta Minggu Rubrik Biji Sesawi.

Piyama Naruto

Beberapa hari lagi Hanny, adik Hesti akan berulang tahun yang ke-9.  Hanny dan Hesti adalah dua orang bersaudara dari keluarga bapak Lukman. Usia mereka terpaut 3 tahun, dimana Hesti berumur 12 tahun.
“Piyama bergambar Naruto!” piker Hesti.  Mengingat Hanny adalah gadis tomboy!  Dari semenjak TK, Hanny selalu juara lomba drum band.  Belum lagi hobinya bermain robot-robotan dan pistol air.
Pulang sekolah, Hesti segera membongkar celengannya.  Setelah dihitung-hitung, terkumpullah uang recehan sebanyak Rp 100.000,-.  Hasil tabungannya selama 50 hari.
Malam harinya, setelah Hanny tidur, Hesti pergi ke kamar orang tuanya; untuk minta izin pergi ke mall dekat sekolah guna membelikan hadiah ulang tahun buat Hanny.
“Anak baik!” Seru mamanya.  “Tapi uang logamanmu perlu ditukar dulu dengan uang mama.”  Mamanya segera mengambil dua lembar uang Rp 50.000,- lalu ditukar dengan uang receh Hesti.
Hesti kembali ke kamarnya sendiri, berdoa, lalu tidur dengan nyenyak.
Keesokkan harinya – sepulang dari les menggambar – mengingat hari ini adalah hari Sabtu dan sekolah libur, maka Hesti diantar pak Sopir berbelanja di mall.  Saat sedang asyik memilih piyama, terdengarlah suara membahana, “Pengunjung yang terhormat, jika ada yang merasa ketinggalan botol air, harap mengambilnya di bagian informasi.  Terima kasih!”
Hesti tersadar, bahwa saat sedang memilih-milih piyama, botol airnya yang agak berat ia taruh disalah satu rak baju.  Dan sekarang botol air tersebut sudah tidak ada.
Setelah menjatuhkan pilihan pada piyama warna putih bergambar Naruto, piyama tersebut segera ia bayar di kasir.  Lalu, ia langsung menuju ke tempat informasi.
Sesampainya di bagian informasi.. Wow! Ternyata disana adalah juga merupakan tempat membungkus kado!!  Hati Hesti terpesona melihat bentuk kotak kado yang lucu-lucu, beraneka warna pita, renda dan kertas-kertas pembungkus kado.
Hesti mengambil botol air di bagian informasi.  Setelah itu ia memilih-milih kertas kado.  Pilihan dijatuhkan pada kertas kado warna orange, dengan ornament warna pita yang senada.  “Ini barangnya, mbak!  Tolong dibungkusin,” seru Hesti sembari  menyerahkan piyama, kertas kado dan pita kepada petugas informasi.  Dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadilah sebuah kado yang cantik!
Selesai dibungkus, sambil mengucapkan terima kasih, Hesti membayar biaya kertas kado dan ornament pita.  Lalu kembali pulang ke rumah.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Saat Hanny merayakan pesta ulang tahun,  Hesti memberikan hadiah spesial buat Hanny..
“Apa ini?” Tanya Hanny.
“Kesukaan kamu.. piyama Naruto!”
“Waah~! Asyik!!  Asyik!!” seru Hanny memekik kegirangan.  “Makasih, kak!!” Sambil memeluk dan mencium pipi Hesti. Yenny N.
* * *
Dikirim ke redaksi Warta Minggu dan sudah dimuat di buletin gereja Warta Minggu Rubrik Biji Sesawi.